KENDAL – Meskipun 3 bulan yang lalu panitia penjaringan yang menggunakan  STIE Semarang mendapatkan protes dalam penyelenggaraan CAT Perangkat Desa di kecamatan Ngampel karena disinyalir ada kecurangan. Kali ini panitia di dua desa di kecamatan Boja, juga memakai STIE Semarang untuk melaksanakan tes CAT.

Sebagaimana diketahui dari sejumlah berita media, kejanggalan terjadi pada tes CAT di kecamatan Ngampel. Nama-nama yang beredar sebelum hari pelaksanaan, sama persis dengan yang mendapat rangking satu pada tes CAT.

Berikut pelaksanaan tes CAT perangkat Desa sebagaimana diberitakan MEDGO Jateng.

Dalam rangka mengisi kekosongan perangkat desa pada jabatan Kepala Dusun dan Kasi pemerintahan, di Desa Tampingan dan Ngabean, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (5/6/2921), sebanyak 24 orang mengikuti Computer Assisted Test (CAT) calon perangkat desa di STIE Semarang.

Materi CAT meliputi Pancasila, UUD 1945, pengetahuan umum, Undang-undang Desa dan Bahasa Indonesia.

Ketua Tim Penjaringan dan Penyaring Perangkat Desa (TP3D), Suatno, mengatakan bahwa panitia telah melakukan penjaringan sejak bulan April 2021. Penjaringan ini dilakukan lebih awal dari desa-desa di Kendal lainnya.

“Pelaksanaan CAT yang dilakukan di kampus STIE Semarang tersebut, dilakukan dalam waktu 90 menit, dengan 100 soal pilihan ganda”, kata Suatno.

Pihak Ketiga yang menyelenggarakan CAT, lanjut Suatno, diserahkan kepada masing-masing desa, tidak ada keharusan dengan lembaga tertentu; untuk kali ini desanya memakai STIE Semarang.

“Sebenarnya, peserta CAT dari Desa Tampingan dan Ngabean tersebut, ada 26 orang, namun karena ada dua peserta yang mengundurkan diri, maka pesertanya tinggal 24 orang”, pungkas Suatno.

Sementara itu, sebagaimana diberitakan MEDGO, ketua Tim Asesmen STIE Semarang, Jefri Heridiansa, mengatakan bahwa panitia dalam melaksanakan CAT, dilakukan secara terbuka dan tidak ada permainan rekayasa.

Jefri memaparkan, tim asesmen memberikan 100 buah soal, dalam waktu 90 menit. Jika sebelum 90 menit selesai, maka peserta bisa melakukan koreksi atau merubah jawaban yang dianggap salah untuk dibenarkan.

Namun, jika baru 60 menit peserta sudah selesai mengerjakan dan langsung menutup komputer, maka peserta tersebut tidak bisa merubah jawaban.

“Akan tetapi sebelum waktunya habis dan peserta tes belum menutup komputernya maka pserta masih bisa merubah jawabannya”, tandas Jefri.

Setelah selasai mengerjakan tes, lanjut Jefri, para peserta bisa langsung melihat berapa nilai yang diperolehnya. (NHK).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *