Penulis: Fredrik Dandel, ST. (Candidat S.Th.)

Dampak penularan Covid-19 yang dimulai dari Wuhan – China pada akhir 2019 telah menyebar hampir ke semua pelosok bangsa / negara. Tidak tanggung-tanggung, data dari worldometers mencatat telah 222 negara yang terkena dampak Covid-19 ini, padahal hanya ada 193 negara berdaulat yang masuk menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tidak terkecuali Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia tercatat menempati ranking 17 dari 222 negara dengan tingkat populasi terbesar dampak Corona Virus. Hal ini membuat Pemerintah berupaya untuk mencari cara / solusi agar pandemi ini cepat berakhir. Salah satu solusi yang dilakukan adalah dengan vaksinasi Covid-19 bagi seluruh masyarakat. Program mana yang dimaksud adalah untuk melindungi masyarakat Indonesia terhadap ancaman penularan wabah Corona Virus yang yang mematikan dan mengancam semua sendi-sendi kehidupan manusia.

Pro dan Kontra terkait Program vaksinasi Covid-19 merupakan hal yang real terjadi di masyarakat, Menurut Rijal Syahbriansyah, masyarakat ada yang mendukung dan meragukan seberapa efektifkah dengan adanya vaksin ini, bahkan ada juga yang menolak divaksin. Ada beberapa kecemasan masyarakat terhadap adanya vaksin ini yakni, kecemasan dengan adanya vaksin, kecemasan setelah divaksin (pascavaksin), lalu kecemasan karena usia. Kecemasan masyarakat pasca divaksin itu ada, karena ada informasi yang hoaks atau negatif yang didapatkan masyarakat tentang efek samping pasca vaksinasi.

Salah satu hoaks yang juga berkembang adalah tentang adanya Chip yang masuk ke dalam tubuh seseorang yang divaksin. Meskipun hal ini sudah dibantah oleh Erick Tohir (Menteri BUMN). Menurut dia, penggunaan barcode pada kemasan vaksin tersebut hanya untuk mempermudah sistem distribusinya saja. “Jadi bukan vaksinnya ada chip, lalu dimasukan ke badan kita. Tapi ini barcode, di botol vaksinnya, ketika masuk ke dalam kotak vaksin, kotak vialnya, itu sudah jelas bahwa vaksin ini ada vial sekian. Jadi kalau di dalam kotak itu ada 10 botol, diambil satu langsung ketahuan,” ujar Erick saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (20/1/2021).

Di kalangan umat Kristiani yang meyakini akan datangnya masa aniaya antikrispun, berkembang opini terkait chip dalam vaksin covid-19 ini. Ada yang menghubungkan Chip itu dengan angka 666, sehingga hal ini membuat sebagian umat menolak untuk menerima vaksin covid-19. Ada pula yang menolak dengan alasan lain bahwa tidak perlu divaksin, sebab Covid-19 merupakan penyakit sampar yang didatangkan oleh Tuhan untuk menghukum manusia, sehingga hal itu harus disikapi hanya melalui iman, dan tidak perlu melalui Imun (Vaksin). Hal ini saya katakan sah-sah saja…. !!!

Persoalannya kemudian adalah bahwa Iman masing-masing orang tentunya berbeda. Baik di kalangan denominasi gereja, pun di kalangan internal jemaat. Jika ada salah seorang anggota jemaat yang Lemah imannya kemudian tertular, hal ini sangat berpotensi terhadap anggota jemaat lainnya. Maka munculah klaster2 baru Covid-19 di kalangan gereja. Sebagai contoh : di Korea Selatan,sebagaimana dikutip dari Tempo.co.id pada awal 2021 tiga organisasi keagamaan Kristen Protestan Korea Selatan meminta maaf pada publik lantaran penularan Covid-19 dalam setahun terakhir banyak yang berasal dari klaster gereja. Tiga ormas itu adalah Dewan Nasional Gereja di Korea (NCCK), Asosiasi Kristen Pria Muda ( YMCA), dan Asosiasi Kristen Wanita Muda.

Belakangan muncul juga Klaster baru di Kapenawon Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyebut 18 orang positif covid-19 saat rekaman paduan suara, sebagaimana yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab. Bantul pada 7 Juni 2021.

Bahkan masih banyak contoh2 lain yang akan menambah daftar panjang klaster covid-19 di kalangan Gereja. Hal ini kiranya cukuplah untuk membuktikan bahwa protokol kesehatan termasuk pemberian Vaksin merupakan suatu hal yang penting bagi kita semua, termasuk kalangan Gereja. Dengan kata lain IMAN dan IMUN adalah 2 hal yang sangat penting dipraktekkan umat Tuhan.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya ingin mengutip pandangan salah satu denominasi Gereja yang ada di Indonesia, yakni Gereja Bethel Indonesia terhadap vaksinasi diantaranya sebagai berikut :
Gereja sebagai bagian integral bangsa Indonesia perlu memberi respon positif dengan mendukung upaya pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang berlaku.
Gereja perlu bersikap bijaksana menjaga kesehatan diri dan komunitas dengan harapan pandemi ini segera berakhir. Untuk itu, kita senantiasa memohon hikmat Tuhan agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh informasi yang belum teruji kebenarannya termasuk menghubungkan vaksin dengan mikrocip dan angka 666.

Trimakasih, salam sehat. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *