BERITA-DESA.COM|| Kabupaten Minahasa Utara adalah salah satu dari 12 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten di utara tanah Malesung (Red: Minahasa) ini, mempunyai 125 desa. Tahun 2021 Minahasa Utara yang kerap disebut Minut, baru saja dipimpin oleh Bupati dan Wakil Bupati Terpilih, Joune Ganda dan Kevin Latulolong.

Ulasan ini bersumber dari Indeks Desa Membangun yang dipublikasikan oleh Kementrian Desa. Dapat diakses publik, sehingga siapapun dapat melakukan kajian untuk kepentingan pembangunan. Kajian ini digunakan untuk tujuan memberi solusi kepada pemerintah daerah agar menindaklanjuti rekomendasi dari IDM dan mengadopsinya sebagai kebijakan daerah.

Kinerja Dana Desa di 10 Kecamatan se Minut

Dari 125 desa, terdapat 3 desa yang datanya tidak tercantum dalam IDM. Data terbaca sebanyak 122 desa atau 97,60%. Sedangkan yang tidak terbaca 2,40%. Desa yang mengalami pertumbuhan minus sebanyak 4 desa atau 3,28%. Sedangkan desa yang bertumbuh positif sebanyak 107 desa atau 88%.

Desa dengan status tertinggal, pada tahun 2020 sebanyak 9 desa, turun menjadi 5 desa pada tahun 2021. Berkurang 4 desa. Dan desa dengan status berkembang, pada tahun 2020 sebanyak 69 desa, turun menjadi 50 desa. Berkurang 19 desa.

Desa dengan status maju, pada tahun 2020 sebanyak 41 desa, naik menjadi 44 desa pada tahun 2021. Bertambah 3 desa. Dan desa mandiri pada tahun 2020 sebanyak 3, naik menjadi 23 desa. Bertambah signifikan sebanyak 20 desa. Dengan demikian progres status desa terjadi secara signifikan pada kelompok status desa mandiri.

Rata-rata (average) pertumbuhan yang terjadi pada kelompok desa tertinggal sebesar 2,52%. Dominan terdapat di Kecamatan Wori dan Likupang Barat. Rata-rata pertumbuhan pada kelompok desa berkembang sebesar 3,37%, dominan terdapat di Kecamatan Airmadidi dan Talawaan. Rata-rata pertumbuhan pada kelompok desa maju sebesar 5,61% dominan terdapat di Kecamatan Kalawat, Likupang Timur dan Dimembe. Dan rata-rata pertumbuhan pada kelompok desa mandiri sebesar 11,15%, semuanya terdapat di Kecamatan Kauditan.

Dinamika pertumbuhan desa dari status tertinggal, tetap tertinggal hingga tahun 2021 sebanyak 5 desa dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,52%. Pertumbuhan dari status tertinggal menjadi berkembang pada tahun 2021 sebanyak 4 desa dengan rata-rata pertumbuhan 11,79%. Desa yang berkembang pada tahun 2020, tetap berkembang pada tahun 2021 sebanyak 46 desa dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,63%. Desa berkembang berubah menjadi desa maju sebanyak 22 desa dengan pertumbuhan rata-rata 9,27%. Terdapat 1 desa berkembang berubah status secara sangat signifikan menjadi desa mandiri dengan pertumbuhan 24,06%, yaitu desa Karegesan di Kecamatan Kauditan.  Desa maju yang tetap maju pada tahun 2021 sebanyak 22 desa dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 1,95%. Dan desa maju yang berubah menjadi desa mandiri sebanyak 19 desa, dengan pertumbuhan rata-rata 12,10%, dominan berada di Kecamatan Kauditan.

Tingkat Optimalisasi dan Akselerasi 

Dalam menentukan nilai tingkat optimalisasi dan akselerasi, penulis menggunakan kriteria sederhana. Pertumbuhan desa pada angka 0,00% dianggap sebagai desa yang mengalami kondisi stagnatif. Sedangkan desa yang mengalami pertumbuhan minus (regres) dianggap sebagai desa regresif, dan pertumbuhan positif dianggap sebagai desa progresif. Setiap desa dalam keadaan stagnatif dan regresif, diasumsikan sebagai desa yang kinerjanya tidak optimal. Sedangkan desa yang mengalami progresif, diasumsikan sebagai desa yang kinerjanya optimal.

Tingkat Optimalisasi dan akselerasi dinilai berdasarkan pada 9 tingkatan, yaitu:

  1. Tidak Optimal Rendah, apabila level pertumbuhan: <0.00% sampai dengan -5%; sehingga akselerasi disebut mundur lambat.
  2. Tidak Optimal Sedang, apabila level pertumbuhan: >-5 % sampai dengan -10%; sehingga akselerasi disebut mundur sedang.
  3. Tidak Optimal Tinggi, apabila level pertumbuhan: >-10% sampai dengan -20%; sehingga akselerasi disebut mundur cepat.
  4. Tidak Optimal Sangat Tinggi, apabila level pertumbuhan: >-20%; sehingga akselerasi disebut mundur sangat cepat.
  5. Optimal Rendah, apabila level pertumbuhan: >0.00% sampai dengan 5%; sehingga akselerasi disebut maju lambat.
  6. Optimal Sedang, apabila level pertumbuhan: >5 % sampai dengan 10%; sehingga akselerasi disebut maju sedang.
  7. Optimal Tinggi, apabila level pertumbuhan: >10% sampai dengan 20%; sehingga akselerasi disebut maju cepat.
  8. Optimal Sangat Tinggi, apabila level pertumbuhan: >20%; sehingga akselerasi disebut maju sangat cepat.

Untuk menentukan status optimalisasi dan akselerasi, digunakan logika sederhana dengan kriteria level gerak percepatan <40% disebut lambat dan atau tidak optimal, sedangkan >40% disebut cepat atau optimal.

Dengan menggunakan kriteria penilaian di atas, maka dapat diketahui Tingkat Optimalisasi dan akselerasi, sebagai berikut:

  1. Dari 122 desa terdapat 24 desa stagnatif dan regresif yang terdiri dari 11 desa stagnatif dan 4 desa regresif. Keempat desa regresif, seluruhnya berada pada level pertumbuhan <0.00% sampai dengan -5%; sehingga akselerasi disebut mundur lambat. Ke 24 desa stag dan regresif tersebut mencapai angka 12,30% sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa percepatan mundur yang dialami Minut adalah >40% atau disebut lambat.
  2. Dari 122 desa terdapat 98 desa atau 87,70% desa progresif, yang terdiri dari: a) 60 desa atau 49% desa pada level pertumbuhan: >0.00% sampai dengan 5%; sehingga akselerasi disebut maju lambat, b) 20 desa atau 16% pada level pertumbuhan >5% sampai dengan 10%, sehingga akselerasi disebut maju sedang; c) 24 desa atau 20% pada level pertumbuhan >10% s/d 20%, sehingga akselerasi disebut maju cepat; dan d) 3 desa atau 2% pada level pertumbuhan >20%, sehingga akselerasi disebut maju sangat cepat.

Dari penilaian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat optimalisasi dan tingkat akselerasi pembangunan desa di Kabupaten Minahasa Utara disebut Optimal dengan Percepatan Tinggi. Meskipun demikian, setiap desa harus dapat mengelola Dana Desa sesuai dengan hasil rekomendasi yang telah diterbitkan oleh Kementrian Desa. Karena rekomendasi tersebut merupakan satu kesatuan dengan perencanaan program yang akan direncanakan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahun 2022 nanti. Tentu, terlebih dahulu pemerintah kabupaten Minut dan Pemerintah Desa se Minut harus dapat bersinergi dalam menindaklanjuti rekomendasi dimaksud.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *