SANGIHE|| Kampung Malamenggu di Kecamatan Tabukan Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, memiliki beberapa potensi objek wisata yang kini sedang dalam perencanaan untuk dibangun dengan Dana Desa. Selasatunya adalah objek wisata Batu Ajimat yang terletak di sebuah bukit. Objek wisata Batu Ajimat berjarak sekitar 2 kilometer dari Kantor Kampung Malamenggu. Jalan menuju kesana cukup sulit karena berada pada kemiringan 30 hingga 45 derajat. Meski telah dirintis sejak lama, namun badan jalan belum juga dilakukan pengerasan.

Dari sebuah lapangan kita akan menelusuri hamparan kebun cengkeh dan kelapa menuju puncak bukit yang dinamakan Bowone. Di bukit Bowone saat ini menjadi lahan garapan masyarakat untuk ditanami cabe atau rica Malamenggu yang tersohor rasa khas pedas dan manisnya itu. Menuju Bukit Bowone kita sering mendengar teriakan-teriakan kecil dari ibu-ibu yang sedang memacul kebun rica. Biasanya mereka bekerja dengan sistem gotong royong yang disebut Palose. Yaitu pekerjaan dari 3 sampai 5 orang yang dikerjakan secara bergilir, dengan menghitung durasi jam kerja. Dalam sehari para perempuan tangguh itu bekerja selama 4 jam.

 

View sisi timur laut yang nampak dari Bukit Bowone demikian indah. Disana berjejer pulau-pulau: Laotongan, Beeng Laut, Beeng Dulung, dan beberapa pulau tak berpenghuni. Nusa-nusa itu menghiasi pesisir Manalu dan Laut Sulawesi. Sehingga sangat jelas terlihat lalu-lintas kapal yang masuk-keluar berniaga di Pasar Manalu. Bukit kedua setelah Bowone adalah lokasi beradanya Batu Ajimat yang sekitarnya ditumbuhi pakis sebagai pertanda kawasan ini bersuhu dingin. Di sisi barat nampak pohon-pohon kecil bertumbuh pada lereng-lereng cukup terjal. Masuk akal apabila lereng terjal itu digunakan sebagai tempat menggelindingkan batu-batu dari arah Batu Ajimat, dengan tujuan mengusir musuh.

Bentuk Batu Ajimat itu unik. Lebarnya hampir 4 meter dan panjang sekitar 6 meter. Bagian tertinggi yaitu di tengah kurang lebih 2 meter dan bagian terrendah di sebelah ujung selatan berukuran kurang lebih 50 sentimeter. Jumlah litir menyerupai perbukitan sebanyak lebih dari 20 buah. Bentuk batu ajimat sekilas menggambarkan miniatur Pulau Sangihe alias Tampunganglawo yang dalam bahasa Sangihe dapat dimaknai sebagai tempat bermukim banyak orang. Bagian sekitar Batu Ajimat tampak bersih seperti sengaja dibersihkan oleh para pengunjung.

Pada bagian utara terdapat sebuah batu pipih dikelilingi dengan 10 buah botol bekas minuman bersoda yang berisi air. Di permukaan batu pipih terdapat sebuah toples plastik berisi uang koin jaman VOC dan uang logam jaman sekarang. Di samping toples berisi koin terdapat sebuah cangkir yang berisi air dan sepuntung rokok.

Menurut tuturan Kapitalau (Kepala Kampung) Malamenggu, Yap Raymond Ponto (49), Batu Ajimat sejak masa leluhur sudah menjadi batu keramat, sehingga digunakan oleh penduduk Kampung Malamenggu zaman dahulu sebagai tempat pemujaan, karena dipercaya memiliki kekuatan magis untuk melindungi warga kampung dan seluruh warga Pulau Sangihe dari ancaman para perompak (bajak laut) Mangindano dan ancaman penjajah Belanda maupun Jepang yang berniat jahat.

Warga Kampung Malamenggu percaya bahwa pendahulu mereka yang berlindung di Batu Ajimat mendapat petunjuk dari roh-roh leluhur, manakala mereka bersembunyi dari ancaman perompak dan penjajah. Penduduk dapat berlindung selama berminggu-minggu disana, meskipun mereka membakar kayu untuk memasak dan memasang lampu untuk penerangan pada malam hari. Cahaya yang berasal dari sekitar Batu Ajimat itu tidak dapat dilihat oleh para musuh atau pemburu.

Hal magis yang kerap terjadi di Batu Ajimat ini adalah pengunjung yang membawa pulang benda-benda apapun termasuk pecahan batu dari tempat ini akan mengalami sakit seperti kelumpuhan dan dihinggapi rasa takut setiap waktu. Sakit hanya dapat disembuhkan apabila pembawa benda itu mengembalikan apa yang dibawanya kembali seperti sedia kala. Namun dengan adanya uang logam baru, hal ini menunjukkan bahwa ternyata pengunjung masih bisa melakukan barter dengan syarat terlebih dahulu melakukan ritual penukaran. Dipercaya bahwa Batu Ajimat dikuasai oleh 7 orang sakti leluhur masyarakat kampung Malamenggu. Apabila ada yang mengganggu warga kampung, maka si pengganggu akan merasakan situasi seperti sedang dikejar-kejar oleh ketujuh leluhur itu hingga ke rumah mereka. Pengejaran disertai dengan riuh pukulan bara (parang) pada sarungnya sehingga si pengganggu akan jatuh sakit dan kapok.

Di sebelah timur dari Batu Perlindungan ini, kurang lebih berjarak tempuh 5 kilometer terdapat Batu Kakiraeng. Dari tuturan Dikson Mangentiku (46) mengatakan Batu Kakiraeng adalah sebuah batu yang bentuknya mirip alat cukur kelapa tradisional. Sekitar 20 meter dari Batu Kakiraeng ada simpang tiga yang konon menurut para tua-tua kampung kerap digunakan sebagai jalur lintasan orang untuk menemukan daerah garapan baru secara berpindah-pindah. Di persimpangan itu seringkali terjadi pertikaian yang berujung pada pertumpahan darah. Jenazah korbannya dibuang di tempat yang disebut Pendemekang yang berarti pembuangan.

Di sekitar Batu Kakiraeng terdapat pula sebuah pohon besar yang umurnya sudah sangat tua. Oleh warga kampung Malamenggu dan sekitarnya, pohon itu dijuluki sebagai Pelahanakeng yang berarti tempat untuk beranak (melahirkan anak/bersalin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *