SANGIHE|| Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara terdapat sebuah kampung bernama Gunung. Kampung Gunung merupakan wilayah eks kerajaan Manganitu. Namanya saat itu dikenal dengan sebutan Manganitu-Gunung. Kini menjadi wilayah kecamatan Tabukan Tengah.

Asal usul namanya diambil dari kata “Perkebunan Gunung”. Dikisahkan bahwa sampai akhir abad XIX, mayoritas etnis Sangihe-Talaud masih beragama suku. Keadaan yang demikian mendorong panitia Zendeling mengirim 4 (empat) orang Zendeling. Mereka tiba di Sangihe pada bulan Juni 1857.

Mereka adalah Pdt. Ernst Traugott Steller, asal Jerman yang dikirim oleh NZG Belanda. Ia melakukan pelayanan di Manganitu sejak tahun 1857-1897; Johann Friedrich Kelling (anak Pdt. Jonathan Kelling) melayani di Ondong-Siau dan Tagulandang; Carl Joachim Michael Ludwig Schroder melayani di Tabukan (perlu riset di Tabut atau Tabsel?); dan August Grohe melayani di Ulu-Siau, lalu dipindahkan ke Tamako. Semuanya adalah pemuda asal Jerman. Mereka bukan sarjana Theologia, tetapi para tukang lulusan Zendeling Gossner, sebuah sekolah penginjilan di Jerman.

Tunjangan yang mereka terima dari panitia Zendeling tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, anak asuh dan keperluan lainnya. Untuk mencukupinya, panitia Zendeling mengijinkan mereka mencari rejeki tambahan melalui kecakapan masing-masing. Namun mereka sulit berkreasi untuk mencari rejeki tambahan karena sejumlah hambatan seperti akses jalan kendaraan belum ada, juga keahlian mereka seperti membuat sepatu tak bisa dipraktikkan karena masyarakat Sangihe (saat itu) belum suka memakai sepatu.

Sebagai solusinya, Pdt. Ernst Traugott Steller membuka pegunungan di Manganitu, yang kemudian dikenal dengan nama “Perkebunan Gunung.”

“Perkebunan Gunung” merupakan lokasi “pemuridan” berbagai disiplin ilmu seperti pertanian, pertukangan, dan pendalaman Alkitab. Semua usaha dan kerja keras yang dilakukan tidak hanya untuk mencukupi kekurangan kebutuhan materi atau untuk mengisi kas Zendeling, tetapi juga merupakan persemaian tenaga pemimpin dalam Gereja dan masyarakat luas.

Cita-cita pietis Pdt. Ernst Traugott Steller adalah untuk merombak seluruh pola kehidupan masyarakat Sangihe agar menjadi pribadi yang saleh, memiliki kehidupan yang teratur dan menghargai kerja keras.

Pemuda-pemudi yang menjadi anak asuhnya di “Perkebunan Gunung” dididiknya selama 5-10 tahun bahkan lebih. Pada pagi hari mereka diikutkan dalam doa; pada siang harinya mereka bekerja di kebun; pada malam harinya didoakan dan diberi pendidikan. Sehingga lokasi di tengah hutan tersebut tidak hanya dikenal sebagai perkebunan, tetapi juga populer sebagai “Sekolah Gunung.”

Kerja keras dan cerdas yang dilakukan oleh Pdt. Ernst Traugott Steller di “Perkebunan Gunung” atau “Sekolah Gunung” sukses menyediakan bahan makanan, sehingga bisa mencegah kelaparan; dan sukses menyiapkan tenaga-tenaga yang cakap dan terampil di bidangnya masing-masing.

Banyak diantara murid didiknya menjadi guru Injil, Pinulong, menjadi bas (tukang) yang hasil kerjanya apik, menjadi kepala kampung, menjadi mantri kesehatan, dan yang merantau ke daerah lain sukses mempraktikkan ilmu yang diperolehnya di “Sekolah Gunung.”

Dalam perkembangannya, “Perkebunan/Sekolah Gunung” teringkas menjadi Gunung dan dijadikan sebagai lokasi pemukiman yang diberi nama kampung Gunung.

Gunung berasal dari kata gunung (bahasa Indonesia), yang artinya bukit besar yang memiliki tinggi lebih dari 600 m, atau bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sedangkan yang tingginya kurang dari 600 m disebut bukit, tapi terkadang masyarakat sulit membedakannya, sehingga bukit adakalanya disebut gunung.***

Ket. Dihimpun dan dirangkum dari berbagai sumber. Bila ada versi yang lain silakan posting.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *